Tips Menjaga Kesehatan


Ngopo.com - Dokter praktisi herbal Malaysia, dr. Zaidul Akbar mengatakan, tidak mungkin manusia dapat meningkatkan mutu kesehatan jika obat maupun suplemen yang dikonsumsi banyak mengandung bahan kimia. Fakta menunjukkan 10% dari obat medis yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit mengandung kimia sintetis yang menyebabkan berbagai efek samping.

Jika obat-obatan tersebut dikonsumsi dalam jangka panjang, alhasil dapat menimbulkan kerusakan pada organ tubuh manusia. Ketergantungan akan obat-obatan kimia itu hendaknya ditekan dengan memanfaatkan berbagai bahan alami. Ini akan lebih sehat dan tanpa efek samping ketimbang menjejali tubuh kita dengan kimia-kimia berisiko. Meski demikian mengkonsumsi produk obat herbal hendaknya juga perlu dikaji terlebih dahulu. Apakah obat herbal yang telah dikemas aman untuk digunakan. Khasiatnya juga harus sudah dibuktikan secara ilmiah atau praklinik. Bahan baku produk juga harus berstandar, serta memenuhi persyaratan mutu.

Lebih dari itu, menjaga pola hidup sehat sangat menentukan kondisi tubuh, termasuk menghindari hipertensi. Gaya hidup sehat merupan investasi kesehatan jangka panjang. Sedangkan investasi sakit butuh biaya mahal. Maka dari itu, sebaiknya segera hindari merokok, makanan terlalu berlemak, bermalas-malasan. Memanfaatkan berbagai macam herbal sama saja kita semakin mendekatkan diri dengan alam, dan Tuhan.

Seperti yang sudah anda ketahui, saat ini hampir satu miliar penduduk dunia terkena penyakit hipertensi, dan menjadi satu masalah besar yang harus dihadapi. Pada populasi normal saja diperkirakan 1 dari 4 orang mengalami hipertensi danprevalensinya bertambah seiring dengan meningkatnya usia. Hipertensi, penyakit kronis serius yang dapat merusak banyak organ tubuh. Penderitaannya ada yang mengalami gejala pusing atau perdarahan hidung (mimisan). Namun pada sebagian besar, justru muncul tanpa keluhan, sehingga dikenal sebagai the silent killer.

Penyakit hipertensi bisa diumpamakan seperti pohon yang terus berkembang dari tahun ke tahun dan membuahkan banyak komplikasi. Hipertensi adalah faktor risiko utama pada penyakit jantung, serebral (otak), renal (ginjal), dan vaskular (pembuluh darah) dengan komplikasi berupa "infarl miokard" (serangan jantung), gagal jantung, stroke (serangan otak), gagal ginjal, dan penyakit vaskular perifer.

Akibat tekanan darah tinggi yang berlanjut terus, maka jantung bekerja lebih keras, hingga otot jantung membesar. Kerja jantung yang meningkat menyebabkan pembesaran yang dapat berlanjut menjadi gagal (heart failure). Selain itu, tekanan darah tinggi juga berpengaruh terhadap pembuluh darah koroner di jantung berupa terbentuknya plak (timbunan) aterosklerosis yang dapat mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah dan menghasilkan serangan jantung (heart attack) atau stroke.

Stroke (serangan otak) mempunyai kaitan erat dengan hipertensi. Penderita memiliki kemungkinan terserang stroke 4 kali lebih besar dari pada mereka yang sehat. Tetapi kejadian dapat dikurangi separuhnya bila hipertensi terkontrol. Dari setiap 10 kematian karena stroke, 4 mungkin bisa diselamatkan bila tekanan darah terkontrol.

Selain itu, tekanan darah yang tinggi juga bisa menyebabkan kebutaan dan gangguan penglihatan lain dengan memecahkan pembuluh darah kecil di retina mata.

Kemudian, perlu dipahami, hipertensi dan penyakit ginjal seperti dua sisi mata uang. Penyakit ini dapat merusak ginjal. Di sisi lain, penyakit ginjal setelah beberapa lama akan menimbulkan hipertensi. Pastikan anda harus bisa merubah gaya hidup demi memperoleh kesehatan yang paling berharga. Perubahan gaya hidup dapat berupa:

1. Penurunan berat badan atau diet. Hal ini merupakan intervensi gaya hidup yang paling efektif dalam menurunkan tekanan darah pada pasien dengan berat badan berlebih (overweight).

2. Menerapkan pola makan, yaitu diet rendah lemak dan kaya buah-buahan, sayuran dan susu rendah lemak terbukti sukses dalam menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi.

3. Diet rendah garam. Dari penelitian ditemukan bahwa pengurangan asupan garam hingga 2 gram per hari dapat menurunkan tekanan darah sistolik maupun diastolik. Kombinasi penurunan berat badan dan pengurangan asupan garam terbukti telah membantu lebih dari setengah pasien hipertensi usia lanjut berhenti mengkonsumsi obat anti hipertensi.

4. Aktivitas fisik. Melakukan olah raga secara teratur, paling sedikit 30 menit setiap hari.

5. Berhenti mengkonsumsi alkohol dan merokok.

Selain tips-tips di atas satu hal lagi yang perlu diperhatikan adalah mengatur pola tidur dengan baik. Sebuah penelitian baru yang dipublikasikan dalam jurnal Asosiasi Kesehatan Amerika menemukan bahwa tidur kurang dari 7, 5 jam sehari dapat meningkatkan risiko serangan jantung, terutama bagi mereka yang tekanan darahnya naik di malam hari.

"Kebiasaan tidur besar pengaruhnya terhadap kesehatan, " kata kepala studi, dr. Kazuo Eguchi dari Jichi Medical University di Tochigi, Jepang. Studi terakhir menemukan adanya kaitan antara kebiasaan tidur yang tidak proporsional kurang tidur maupun tidur secara berlebihan dengan berbagai masalah kesehatan seperti obesitas, diabetes, serangan jantung, dan mati muda.

Dalam penelitian yang dilakukan dr. Kazuo Eguchi, ia menguji adanya hubungan antara tidur dan penyakit jantung pada manula. Selama lebih dari 50 bulan, peneliti memonitor 1. 225 partisipan yang rata-rata berusia 70 tahun dan memiliki riwayat hipertensi. Selama masa studi, partisipan melaporkan kebiasaan tidur malam mereka dalam buku diari. Sementara itu tekanan darah mereka dipantau baik siang maupun malam. Kejadian yang terkait dengan jantung seperti stroke, serangan jantung, juga dipantau sepanjang waktu.

Hasilnya diketahui telah terjadi 99 kasus kardiovaskular selama periode penelitian. Pada mereka yang tidur kurang dari 7, 5% dan tekanan darahnya naik, insidennya 33% lebih tinggi. Namun pada mereka yang kurang tidur namun tidak mengalami kenaikan tekanan darah, tidak terjadi penigkatan insiden serangan jantung.

Masih ada hal lain juga yang perlu anda perhatikan, jika anda adalah orang tua yang ingin memiliki anak, pastikan anda tidak lagi merokok. Sebab, paparan rokok terbukti sangat merugikan bagi anak. Studi terbaru menunjukkan selain mengganggu perkembangan saraf dan kecerdasan, asap rokok dapat mengganggu tekanan darah pada bayi.

Studi dilakukan peneliti senior dari Karolinska Institute, Stockhlom, Swedia dan menunjukkan bayi yang lahir dari ibu perokok memiliki masalah tekanan darah hingga mereka berusia satu tahun. "Gangguan tekanan darah ini bukannya menghilang melainkan terus memburuk seiring bertambahnya usia bayi," kata Gary Cohen, ketua peneliti.

Tekanan darah yang abnormal membuat jantung harus memompa lebih cepat dan lebih keras. Studi menunjukkan kerusakan pada sirkulasi ini dapat faktor risiko pada sindrom kenatian bayi mendadak (SIDS).

dr. Cohen menegaskan, bayi yang lahir dari ibu perokok akan mengalami gangguan denyut jantung. Gangguan-gangguan tersebut diyakini akan membawa kesehatan jangka panjang. Asap rokok akan merusak struktur dan fungsi pembuluh darah, terutama endotel, lapisan pelindung pembuluh darah.

Sumber:
Bebas Hipertensi Seumur Hidup Dengan Terapi Herbal, Penulis Nur Kholish.

Artikel NGOPO.COM Lainnya :

0 komentar:

Post a Comment

Scroll to top